Sabtu, 10 Januari 2015

Maskapai Asing Siap Menyerbu



BISNIS penerbangan di masa mendatang menghadapi tantangan berat. Harga bahan bakar avtur yang menjadi komponen biaya terbesar dalam total operating cost terus meningkat. Dari waktu ke waktu, maskapai dipaksa untuk terus menaikkan tarif 

Agar bisa bertahan dalam persaingan, strategi bisnis low-cost carrier (LCC) yang agresif mau tak mau harus jadi pilihan. Khususnya bagi maskapai penerbangan yang beroperasi di Indonesia. Sebab, penumpang di Indonesia sangat sensitif terhadap harga. Sayang, hal itu sepertinya kurang disadari oleh para pengambil keputusan di Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Pengamat kebijakan publik Agus Pambagyo menilai, dengan dilarangnya penjualan tiket murah oleh maskapai penerbangan lokal, pesawat LCC asing bakal menguasai pangsa pasar Indonesia. Kehadiran LCC asing, menurut Agus, tak bisa dicegah oleh Menhub Ignasius Jonan. "Kalau mahal, bisa pesan LCC dari Singapura ke kota-kota besar di Indonesia. Artinya, pangsa pasar kita bisa dikeruk habis," ujar Agus kemarin (10/1).

Agus setuju dengan penerapan tarif batas bawah. Namun, dia mengingatkan kepada Kemenhub bahwa pesawat asing dengan tarif murah siap mengambil penumpang dari Indonesia. "Boleh diberlakukan batas bawah. Tapi, bagaimana menahan LCC dari asing? Kasih jadwal tengah malam?" tanyanya.

Agus menambahkan, negara asing sudah siap memasuki open sky (pasar bebas penerbangan) tahun ini. Dengan hilangnya tiket promosi dan tiket murah, industri penerbangan semakin kehilangan daya saing dengan negara asing. "Yang paling mau adanya open sky itu kan Singapura dan Malaysia. Karena mereka sudah siap industri penerbangannya," jelas dia.

Disodori fakta demikian, Menhub Ignasius Jonan tak mau tahu. Mantan Dirut PT Kereta Api Indonesia (KAI) itu tetap ngotot bahwa tarif penerbangan yang diberlakukan maskapai bertarif rendah atau LCC tidak masuk akal. 

Alih-alih mau menengok tren LCC di luar negeri, arek Wonokromo, Surabaya, itu malah membandingkan tiket pesawat LCC dengan tiket kereta eksekutif. "Tiket kereta api kelas eksekutif tidak dikasih makan juga. Jakarta-Surabaya, harga Rp 350 ribu-Rp 450 ribu untuk 9,5 jam. Kalau ada pesawat Jakarta-Denpasar harganya Rp 300 ribu-Rp 400 ribu, apa itu masuk akal?" kata Jonan di Istana Negara Kamis lalu (8/1). 

Jika tarif murah tersebut terus diberlakukan, tutur Jonan, maskapai akan merugi karena terus menalangi biaya operasional. "Logis saja. Apa ada orang yang mau nombok terus? Tapi, menurut saya, tidak sehat industrinya," ucapnya. 

Jonan -yang baru 2,5 bulan menjabat Menhub- sepertinya harus lebih banyak belajar. LCC merupakan model penerbangan yang unik dengan strategi penurunan operating cost. Dengan efisiensi biaya di semua lini, maskapai melakukan hal-hal di luar kebiasaan maskapai pada umumnya. 

Strategi LCC juga tidak muncul baru-baru ini saja. Maskapai Southwest yang beroperasi sejak 1967 sudah sukses menerapkannya puluhan tahun. Keberhasilan Southwest itu kemudian ditiru banyak maskapai lain seperti Vanguard, America West, Kiwi Air, dan Ryanair yang berdiri pada 1990. 

Langkah LCC kemudian juga ditiru di Asia dengan munculnya AirAsia yang bermarkas di Malaysia pada 2000 dan Virgin Blue di Australia. Lantas, di Indonesia, berdiri Lion Air dan Wings Air, anak perusahaan Lion Air.

Fakta itu seharusnya menyadarkan semua pihak bahwa sekarang semua orang bisa terbang dengan harga yang terjangkau. Tidak hanya dimonopoli orang-orang dari kalangan menengah ke atas. (gal/aph/wir/c11/kim) 



portal berita indonesia

Berita lainnya : Jajang Ingin Pertahankan Rekor Persib Ladeni Tim Luar Negeri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar